Penguatan Kecakapan Guru Pendidikan Pancasila Surabaya dalam Pengembangan Bahan Ajar Anti-Kekerasan
Surabaya, 24 Juni 2024 — Upaya menciptakan lingkungan sekolah yang aman, nyaman, dan bebas dari kekerasan terus diperkuat melalui kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat bertajuk “Penguatan Kecakapan Guru Pendidikan Pancasila Jenjang SMP di Surabaya dalam Pengembangan Bahan Ajar Berperspektif Anti Kekerasan”. Kegiatan ini berlangsung di SMP Negeri 23 Surabaya dan diikuti oleh 67 guru Pendidikan Pancasila yang tergabung dalam MGMP PPKn jenjang SMP Kota Surabaya.
Acara diawali dengan sambutan dari Pembina MGMP PPKn Ibu Nanik, yang juga Kepala SMP Negeri 23 Surabaya. Dalam sambutannya, beliau menegaskan pentingnya kompetensi guru dalam memahami isu kekerasan di sekolah serta kemampuan mengintegrasikan nilai-nilai anti kekerasan dalam bahan ajar.
“Guru memiliki peran strategis dalam membangun budaya sekolah yang aman. Penguatan perspektif anti kekerasan dalam pembelajaran Pendidikan Pancasila sangat diperlukan agar nilai-nilai kemanusiaan dan saling menghormati dapat tumbuh sejak dini,” ujar Ibu Nanik.
Setelah sambutan pembina MGMP, kegiatan dibuka secara resmi oleh Wakil Dekan I FISIPOL, yang juga merupakan anggota Tim Anti Kekerasan. Beliau menekankan pentingnya kolaborasi antara perguruan tinggi dan sekolah dalam menghadirkan pembelajaran Pancasila yang lebih humanis dan berpusat pada peserta didik.
“Kami terus mendorong penguatan kapasitas guru agar mampu merancang bahan ajar yang sensitif terhadap potensi kekerasan di sekolah. Pembelajaran Pancasila harus menjadi ruang yang membangun empati dan perilaku damai,” tegasnya.
Kegiatan ini menghadirkan Tim PKM yang terdiri dari: Dr. Oksiana Jatiningsih, M.Si. Dr. Rr. Nanik Setyowati, M.Si. Prof. Dr. Sarmini, M.Hum. Dr. Harmanto, S.Pd., M.Pd. Dr. Listyaningsih, S.Pd., M.Pd. Rianda Usmi, S.Pd., M.Pd. Tim PKM memberikan materi terkait konsep sekolah aman dan nyaman, strategi identifikasi potensi kekerasan, serta teknik pengembangan bahan ajar Pendidikan Pancasila yang mengusung nilai-nilai anti kekerasan. Para peserta juga mengikuti workshop penyusunan bahan ajar aplikatif yang dapat segera diterapkan dalam proses pembelajaran.
Antusiasme tinggi tampak dari diskusi interaktif, curah pendapat, dan kolaborasi antar guru selama kegiatan. Para peserta menyambut baik materi yang disampaikan karena dianggap relevan dengan tantangan kekerasan yang kerap muncul di lingkungan sekolah.
Kegiatan pengabdian ini diharapkan menjadi langkah strategis dalam memperkuat peran guru Pendidikan Pancasila sebagai agen perubahan menuju terciptanya sekolah yang aman, nyaman, serta menjunjung tinggi nilai kemanusiaan sesuai semangat Pancasila.